Bitcoin adalah cryptocurrency atau uang elektronik yang diciptakan oleh seseorang bernama Satoshi Nakamoto. Bitcoin ini juga dapat dikatakan sebagai mata uang digital yang tidak membutuhkan bank untuk penyimpanannya. Dan sekarang ini, banyak orang sudah ‘bermain’ Bitcoin karena keuntungan yang ditawarkannya.

Per tanggal 29 Juli2 018 pukul 20.18 WIB saja, nilai tukar 1 Bitcoin terhadap Rupiah adalah sebesar Rp 118.155.510, cukup besar, bukan? Hanya saja, tidak semua negara di dunia yang melegalkan Bitcoin atau mempersilakan setiap orang di dalam negaranya menggunakan mata uang digital ini.

Bahkan Bank Indonesia (BI) atau Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, pernah mengatakan agar setiap orang yang ingin berinvenstasi Bitcoin harus benar-benar berhati-hati. Tidak hanya itu saja, disarankan pula untuk lebih memilih jenis investasi lainnya daripada harus berinvestasi Bitcoin atau menggunakannya sebagai media transaksi.

Tidak hanya pihak pemerintahan dalam satu negara saja, menurut Onny Widjanarko selaku Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI, perusahaan sekelas Facebook saja juga tidak ingin situs jejaring sosialnya digunakan sebagai media untuk mengiklankan semua hal terkait Virtual Currency, termasuk Bitcoin ini.

Jadi pertanyaannya adalah jika dikatakan menguntungkan, apakah tidak ada sisi minus pada kurensi digital ini? Jawabannya tentu saja ada. Beberapa penjelasan di bawah ini adalah hal-hal yang dapat kamu jadikan pemikiran sebelum berinvestasi Bitcoin.

Ancaman peretas

Hacker adalah julukan untuk seseorang atau kelompok yang dapat melakukan peretasan sistem. Ada banyak jenis sistem yang dapat diterobos dan dimodifikasi, termasuk dalam hal ini sistem yang terkait dengan Bitcoin. Dengan semakin rentannya sistem Bitcoin terhadap peretasan, maka semakin berisiko pula untuk menggunakan kurensi digital ini sebagai ladang investasi.

Sebagai contohnya saja, dalam 2 bulan lalu, ada berita bahwa sebuah tempat penukaran Bitcoin di Jepang berhasil diretas dan ada USD 530 juta melayang digondol para hacker. Dan terkait dengan peretasan itu, kira-kira siapa yang dapat memberikan jaminan? Jawabannya adalah tidak ada. Seketika sistem Bitcoin dapat berhasil dibobol dan uang elektronik di dalamnya dicuri, maka tidak ada yang wajib memberikan ganti.

Nilai tukarnya sangat fluktuatif

Memang ada kalanya nilai tukar Bitcoin sangat tinggi, bahkan pernah mencapai USD 1.100 per 1 Bitcoin saja pada bulan Januari 2013 lalu. Namun hanya dalam beberapa jam saja, nilainya turun sampai hanya dengan USD 500 dan terus menurun. Dikarenakan fluktuasi yang sangat besar dan cepat tersebut, maka sangat berisiko ketika dijadikan media investasi dan dikhawatirkan justru akan merugikan daripada menguntungkan.

Ribet dan berisiko

Walaupun tidak ada bentuk fisiknya, namun Bitcoin sangat rentan dan mudah hilang. Pasalnya, untuk dapat menggunakan atau membelanjakan Bitcoin tersebut, maka pemiliknya harus menggunakan private key atau deretan kode khusus sebagai alat aksesnya. Kode khusus tersebut disimpan di dalam dompet digital yang lebih dikenal dengan sebutan wallet.

Sayangnya, deretan kode khusus dalam wallet tersebut tidak dapat dengan mudah diingat, oleh karenanya harus disimpan di dalam laptop atau komputer. Dan jika ada satu masalah yang menimpa perangkat dan membuat harddisk rusak, maka orang yang bersangkutan tidak akan dapat lagi menggunakan Bitcoinnya.

Dengan setidaknya 3 hal minus terkait Bitcoin seperti yang dijabarkan di atas, maka jika kamu tetap keukeh akan berinvestasi di kurensi digital itu, maka kamu juga harus siap menanggung segala kemungkinan yang bakal terjadi, termasuk kehilangan Bitcoin secara tiba-tiba.

 

Categories: Cara Investasi