Ketika internet sudah menjadi salah satu hal yang sangat berperan banyak dalam segala aktivitas manusia, seperti salah satunya adalah dalam bidang pemberian pinjaman online, maka sekarang ini ada sangat banyak penyedia dana yang bersedia memberikan pinjaman secara online.

Pinjaman online ini sekarang secara perlahan mulai banyak diminati karena tanpa keluar rumah atau bertatap muka dengan pihak pemberi pinjaman, seseorang akan mendapatkan dana yang diinginkannya.

kenali-dulu

Sayangnya, dengan semakin banyaknya pihak peminjam yang berkenan memberikan dana cepat secara online ini, justru ada saja pihak-pihak yang memanfaatkan hal tersebut untuk kepentingan pribadi atau golongannya sendiri.

Untuk itu, dibutuhkan kejelian dan kewaspadaan ekstra agar tidak terkecoh dan tertipu oleh para pemberi pinjaman online abal-abal alias palsu tersebut. Di bawah ini adlah beberapa cara sederhana untuk dapat mengidentifikasi apakah pihak pemberi pinjaman secara online itu asli atau tidak.

Penawaran

Kamu wajib hati-hati dan mulai ragu ketika masih dalam tahap bertanya-tanya, namun pihak peminjam justru akan terus menawarkan jasa mereka. Bahkan aksi yang dapat dikatakan cukup agresif dan berlebihan ini akan lebih diutamakan daripada menjelaskan secara detail mengenai produk atau segala hal yang ditawarkan, dalam hal ini adalah terkait dengan pinjaman online tersebut.

Website masih berupa blog

Akan menjadi satu hal yang mengherankan jika mengetahui ada pihak peminjam dana memiliki website resmi berupa blog. Alasan kenapa harus heran adalah karena jika memang memiliki dana besar untuk dapat dipinjamkan, maka aneh rasanya apabila tidak mampu membuat sebuah website resmi yang harganya tidak begitu mahal.

Email gratisan

Seperti halnya website yang masih berupa blog, kamu juga wajib ragu dan waspada ketika menemukan bahwa email yang digunakan oleh sang pemberi pinjaman masih berupa email gratisan.

Syarat sangat mudah

Seperti halnya lembaga pemberi kredit atau pihak peminjam di dunia nyata, tentunya akan ada syarat dan ketentuan tertentu yang sudah ditetapkan dan dijadikan aturan oleh kreditor. Dan rata-rata syarat yang dibuat cukup sulit dan berat. Namun kamu wajib kembali ragu dan waspada jika ternyata syarat yang ditawarkan sangat mudah.  Terutama jika pihak pemberi pinjaman mengabaikan riwayat utang sang peminjam yang dapat diakses melalui BI Checking atau Sistem Informasi Debitur (SID).

Uang muka

Rata-rata pemberi pinjaman online yang palsu akan meminta uang muka kepada sang peminjam dengan dalih agar proses administrasi dapat segera mungkin dilakukan dan uang yang diminta dapat secepatnya cair. Hal tersebut bukanlah satu ciri dari badan atau lembaga peminjaman online atau di dunia nyata.

Memang ada uang administrasi yang akan diminta oleh pihak peminjam sebagai tanda awal kesepakatan pinjam-meminjam, namun nominal yang ditetapkan juga tidak besar. Bahkan rata-rata di bawah Rp 500 ribu saja.

PIN dan kata kunci

Satu hal lagi yang mayoritas dilakukan oleh pihak pemberi pinjaman online palsu adalah kerap meminta PIN sekaligus kata kunci atau password perbankan yang dimiliki oleh pihak peminjam. Alasannya adalah untuk melengkapi data dan mengatakan bahwa semua password dapat diganti setelah diserahkan.

Tentunya menjadi satu hal yang aneh, bukan, ketika sebuah lembaga atau badan peminjam harus bertanya ID dan password. Hal itu dikarenakan ID dan kata kunci perbankan adalah sesuatu yang sangat pribadi dan hanya boleh diketahui oleh sang pemilik saja. Ditambah lagi bahwa untuk kelengkapan data rata-rata hanyalah nama asli, tempat dan tanggal lagir, nomor telepon atau mobile, email, sampai dengan alamat sesuai KTP.

Pemaksaan

Ketika sang peminjam mulai ragu dan mengisyaratkan akan mundur atau membatalkan proses peminjaman, pihak peminjam abal-abal akan terus melakukan pemaksaan dengan berbagai macam cara. Hal ini agar calon peminjam akhirnya akan memutuskan untuk meminjam pada pihak tersebut.

Untuk itu, bagi kamu yang memang ingin melakukan peminjaman sejumlah uang secara online, maka diharapkan dapat secara cermat dan bijak agar tidak menjadi korban.